BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Identifikasi Masalah
Pendidikan
di Indonesia dewasa ini telah mengalami perbaikan dari tahun ke tahun, mulai
dari perbaikan kurikulum hingga perbaikan standar kelulusan siswa. Selain itu,
perkembangan teknologi informasi, banyaknya penggangguran serta beratnya
persaingan dalam mencari kerja dan adanya penyetaraan pendidikan baik dalam
konteks nasional maupun internasional merupakan beberapa faktor dan tuntutan
agar pendidikan harus lebih baik.
Lembaga
pendidikan pada saat ini terutama pendidikan menengah Kejuruan ditantang oleh
perkembangan informasi serta teknologi yang pesat agar mampu bersaing di dunia
industri. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 3 Sijunjung merupakan
Sekolah Kejuruan yang membuka program keahlian Kriya Kayu, Teknik Kendaraan Ringan, Teknik Sepeda Motor, dan Perbankan. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman peneliti
di SMK Negeri 3 Sijunjung, khususnya di jurusan Teknik Sepeda Motor motivasi siswa dalam mengikuti proses
pembelajaran masih sangat rendah.
Hal tersebut
dapat dilihat dari aktifitas siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
Beberapa aktifitas tersebut antara lain: tidak memperhatikan guru yang sedang
menjelaskan, keluar masuk kelas, mengganggu teman sebangku, ngobrol, mengantuk
dan sebagainya. Ketika diadakan evaluasi ringan diakhir pembelajaran, banyak
siswa yang menunjukan ketidak mengertiannya, lalu menganggap bahwa pembelajaran tersebut sulit
dan menjenuhkan. Uraian di atas merupakan gambaran suasana pembelajaran yang
terjadi di kelas. Dampak dari proses pembelajaran yang kurang mengesankan ini,
memicu menurunnya aktivitas siswa pada pembelajaran, akhirnya berimplikasi
terhadap rendahnya prestasi belajar siswa.
Penyebab
utama dari permasalah tersebut adalah siswa belum dilengkapi dengan buku pengangan
atau modul dalam proses pembelajaran. Hal ini menyebabkan siswa tidak memiliki
persiapan materi dalam kegiatan belajar mengajar. Sehingga siswa cenderung
menerima saja materi-materi yang diberikan tanpa memberikan umpan balik
terhadap materi yang disampaikan sehingga proses pembelajaran menjadi
membosankan. Selain itu, siswa juga disibukkan dengan kegiatan mencatat,
sehingga perhatian siswa menjadi berkurang ketika guru sedang menjelaskan.
Salah satu
cara agar siswa dapat mempersiapkan materi pembelajaran yang akan disampaikan
adalah dengan memberikan tugas prapembelajaran. Artinya siswa diberikan tugas
berupa soal-soal mengenai materi yang akan disampaikan pada pertemuan
berikutnya. Keadaan ini diharapkan dapat membantu siswa dalam memahami konsep-konsep
mengenai materi yang akan disampaikan. Sehingga siswa akan lebih termotivasi
dalam mengikuti proses pembelajaran. Selain itu efektifitas belajar juga akan
meningkat karena siswa tidak lagi
disibukkan dengan kegiatan mencatat.
Berdasarkan
latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk meneliti mengenai ”Upaya
meningkatkan motivasi belajar siswa dengan menggunakan metode pemberian tugas
terstruktur prapembelajaran di kelas X TSM SMK Negeri 3 Sijunjung”.
B.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan
dari latar belakang di atas dapat diidentifikasi beberapa masalah, yakni:
- Motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar masih rendah, yang dapat dilihat dari aktifitas siswa dalam proses pembelajaran.
- Siswa belum dilengkapi dengan buku pegangan atau modul dalam proses belajar mengajar.
- Siswa cenderung hanya menerima materi-materi pembelajaran yang disampaikan tanpa memberikan umpan balik.
- Siswa masih disibukkan dengan kegiatan mencatat sehingga perhatian siswa saat guru menjelaskan dan efektifitan pembelajaran menjadi berkurang.
- Siswa tidak memiliki persiapan materi dalam proses pembelajaran sehingga dalam proses pembelajaran.
C.
Batasan Masalah
Berdasarkan
identifikasi masalah tersebut agar permasalahan yang dibahas tidak meluas maka
peneliti hanya membatasi permasalahan penelitian ini pada: ”Upaya meningkatkan
motivasi belajar siswa dengan menggunakan metode pemberian tugas terstruktur
prapembelajaran di kelas X TSM SMK Negeri 3 Sijunjung”.
D.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
batasan masalah diatas dapat dirumuskan masalah-masalah yang dijadikan
penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut:
- Bagaimanakah penerapan metode pemberian tugas terstruktur prapembelajaran di kelas kelas X TSM SMK Negeri 3 Sijunjung?
- Apakah penerapan metode pemberian tugas terstruktur prapembelajaran dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas X TSM SMK Negeri 3 Sijunjung?
E.
Tujuan Penulisan
Berdasarkan
tujuan penelitian tersebut maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk
menjelaskan mengenai:
- Penerapan metode pemberian tugas terstruktur prapembelajaran di kelas X TSM SMK Negeri 3 Sijunjung.
- Penerapan metode pemberian tugas terstruktur prapembelajaran dapat meningkatkan motivasi belajar di kelas X TSM SMK Negeri 3 Sijunjung.
F.
Manfaat Penulisan
- Sebagai alat evaluasi dalam pembelajaran.
- Sebagai masukan bagi guru dalam mengajar.
- Bahan bacaan dan penelitian lanjut bagi peneliti lainnya.
BAB
II
KAJIAN TEORI
A.
Landasan
Teori
- Motivasi Belajar
Salah satu
aspek psikologis yang ada pada diri seseorang adalah motivasi. Menurut Egsenck
dalam Muhammad Faiq (2009), motivasi merupakan suatu proses yang menentukan
tingkatan kegiatan, intensitas, konsisten, serta arah umum dari tingkah laku
manusia. Seseorang termotivasi atau terdorong untuk melakukan sesuatu karena
adanya tujuan atau kebutuhan yang hendak dicapai.
Tujuan atau
kebutuhan tersebut akan mengarahkan perilaku seseorang. Begitu pula perilaku
seseorang dalam kegiatan belajar mengajar juga memerlukan motivasi untuk
belajar. Menurut Sardiman (1987) dalam Muhammad Faiq
(2009), motivasi belajar ada 2 yaitu:
a.
Motivasi
Intrinsik
Motivasi intrinsik adalah motivasi
yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu ada perangsang dari luar,
karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.
Dengan demikian, tingkah laku yang dilakukan seseorang disebabkan oleh kemauan
sendiri bukan dorongan dari luar.
b.
Motivasi
Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik merupakan motif
yang aktif dan berfungsi karena adanya dorongan atau rangsangan dari luar.
Tujuan yang diinginkan dari tingkah laku yang digerakkan oleh motivasi
ekstrinsik terletak diluar tingkah laku tersebut.
Penguatan motivasi-motivasi belajar
tersebut berada ditangan para guru pendidik dan anggota masyarakat yang lain.
Guru sebagai pendidik bertugas memperkuat motivasi belajar selama minimum 9
tahun pada usia wajib belajar. Orang tua bertugas memperkuat motivasi belajar
sepanjang hayat.
- Pemberian Tugas
a.
Pengertian
Pemberian Tugas
Yang dimaksud dengan pemberian tugas dalam
penelitian ini adalah merupakan suatu metode mengajar yang diterapkan dalam
proses belajar mengajar, yang biasa disebut dengan metode pemberian tugas.
Biasanya guru memberikan tugas itu sebagai pekerjaan rumah. Akan tetapi
sebenarnya ada perbedaan antara pekerjaan rumah dan pemberian tugas. Roestiyah
(1996:75) dalam Sofa (2008) mengatakan:
“Untuk pekerjaan rumah, guru menyuruh
membaca dari buku dirumah, dua hari lagi memberikan pertanyaan dikelas. Tetapi
dalam pemberian tugas guru menyuruh membaca
dan juga menambah tugas seperti: (1) mencari buku lain untuk membedakan,
(2) mempelajari keadaan orangnya”
Dengan pengertian lain bahwa tugas ini
jauh lebih luas dari pekerjaan rumah karena metode pemberian tugas dari guru
kepada siswa untuk diselesaikan dan dipertanggungjawabkan. Siswa dapat
menyelesaikan tugas di sekolah, di rumah atau di tempat lain yang kiranya dapat
menunjang penyelesaian tugas tersebut, baik dikerjakan secara individu atau
kelompok.
Tujuannya dari pemberian tugas selain
untuk melatih atau menunjang terhadap materi yang diberikan dalam kegiatan
intra kurikuler, juga melatih tanggung jawab akan tugas yang diberikan. Tugas
ditetapkan batas waktunya, dikumpulkan, diperiksa, dinilai dan dibahas tentang
hasilnya. Dalam memberikan tugas kepada siswa, guru harus memperhatikan hal-hal
berikut ini:
1)
Memberikan
penjelasan mengenai pemberian tugas
2)
Tujuan
penugasan
3)
Bentuk
pelaksanaan tugas
4)
Manfaat
tugas
5)
Bentuk
Pekerjaan
6)
Tempat dan
waktu penyelesaian tugas
7)
Memberikan
bimbingan dan dorongan
8)
Memberikan
penilaian
Adapun jenis-jenis tugas yang dapat diberikan kepada siswa yang
dapat membantu berlangsungnya proses belajar mengajar :
1)
Tugas
membuat rangkuman
2)
Tugas
membuat makalah
3)
Menyelesaikan
soal
4)
Tugas
mengadakan observasi
5)
Tugas
mempraktekkan sesuatu
6)
Tugas
mendemonstrasikan observasi
Adapun dalam penelitian ini tugas yang diberikan adalah pemberian
tugas pendahuluan yang berbentuk pertanyaan yang harus diselesaikan siswa
mengenai materi pokok bahasan pertemuan berikutnya.
b.
Kelebihan
dan Kelemahan Pemberian Tugas
Metode pemberian tugas ini dalam pelaksanaannya memiliki beberapa
kelebihan disamping juga mempunyai beberapa kelemahan. Adapun kelebihan metode
pemberian tugas :
1)
Metode ini
merupakan aplikasi pengajaran modern disebut juga azas aktivitas dalam mengajar
yaitu guru mengajar harus merangsang siswa agar melakukan berbagai aktivitas
sehubungan dengan apa yang dipelajari.
2)
Dapat memupuk rasa percaya diri sendiri
3)
Dapat membina kebiasaan siswa untuk mencari,
mengolah menginformasikan dan mengkomunikasikan sendiri.
4)
Dapat mendorong semangat belajar, sehingga tidak
cepat bosan
5)
Dapat membina tanggung jawab dan disiplin siswa
6)
Dapat mengembangkan
kreativitas siswa
7)
Dapat mengembangkan pola berfikir dan keterampilan siswa.
Adapun kelemahan metode pemberian tugas
sebagai berikut:
1)
Tugas tersebut sulit dikontrol guru kemungkinan
tugas itu dikerjakan oleh orang lain yang lebih ahli dari siswa.
2)
Sulit
untuk dapat memenuhi pemberian tugas
3)
Pemberian tugas terlalu sering dan banyak, akan
dapat menimbulkan keluhan siswa,
4)
Dapat
menurunkan minat belajar siswa kalau tugas terlalu sulit
5)
Pemberian tugas yang monoton dapat menimbulkan
kebosanan siswa apabila terlalu sering.
6)
Khusus tugas kelompok juga sulit untuk dinilai
siapa yang aktif.
- Tugas Terstruktur Prapembelajaran
Tugas terstruktur yang dimaksudkan dalam
penelitian ini adalah pemberian tugas oleh guru kepada siswa, dimana waku
penyelesaian tugas ditentukan oleh guru. Selanjutnya tugas prapembelajaran
adalah tugas yang diberikan kepada siswa dalam bentuk tugas individu, dimana
materi tugas yang diberikan merupakan materi yang akan dipelajari pada
pertemuan berikutnya. Tugas itu diberikan kepada siswa dalam bentuk soal-soal
essay yang harus dijawab, setelah mempelajari materi-materi pelajaran yang akan
dibahas pada pertemuan berikutnya. Dengan tugas prepembelajaran ini diharapkan
sebelum menerima pelajaran dari guru, dalam diri siswa telah terbentuk struktur
kognitif yang diperoleh dari tugas pembelajaran
tersebut. Dengan demikian diharapkan ketika masuk kelas, siswa sudah siap dari
rumah tentang konsep-konsep yang akan diberikan oleh guru. Keadaan ini
diharapkan dapat membantu siswa dalam memahami konsep-konsep mengenai materi
yang akan disampaikan.
Pemberian tugas prapembelajaran ini sesuai
dengan anjuran Ausubel yang mengatakan bahwa yang paling penting yang
mempengaruhi belajar adalah apa yang diketahui oleh siswa (Dahar, 1989:117)
dalam Sofa (2008). Dengan pemberian tugas prapembelajaran ini akan terbentuk
struktur kognitif siswa.
Struktur kognitif inilah yang diharapkan
untuk dapat meningkatkan kebermaknaan suatu pembelajaran sehingga siswa lebih
mudah memahami pelajaran. Agar terjadi belajar bermakna maka konsep baru harus
dikaitkan dengan konsep yang telah ada dalam struktur kognitif siswa. Ausubel
menerapkan suatu pengatur awal agar terjadi belajar bermakna.
- Kerangka Konseptual
Berdasarkan
pengamatan yang peneliti lakukan pada Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) khususnya
di kelas X TSM SMK Negeri 3 Sijunjung, motivasi belajar siswa dalam mengikuti
KBM masih kurang. Hal ini dapat dilihat dari akivitas siswa selama mengikuti
KBM. Salah satu penyebab minimnya motivasi belajar siswa ini adalah tidak
adanya persiapan awal siswa dalam mengikuti KBM, sehingga siswa cenderung hanya
menerima materi-materi yang disampaikan guru tanpa memberikan umpan balik
sehingga KBM terasa sangat menjemukan.
Pemberian tugas terstruktur prapembelajaran bertujuan untuk membuat siswa memiliki
persiapan awal saat proses pembelajaran. Dimana siswa telah membaca bahkan
mengerjakan soal mengenai materi yang akan disampaikan. Dengan demikian
diharapkan siswa memiliki ketertarikan terhadap materi-materi yang akan
disampaikan sehingga motivasi belajar siswa dalam mengikuti KBM akan meningkat.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini:


Gambar 1. Kerangka Konseptual
- Hipotesis
Berdasarkan uraian-uraian dan
teori-teori yang telah disampaikan maka dapat disimpulkan hipotesis dalam
penelitian ini adalah dengan menggunakan meode pemberian tugas terstruktur
prapembelajaran dapat meningkatkan motivasi belajar siswa di kelas X TSM SMK Negeri 3 Sijunjung.
BAB
III
METODOLOGI PENELITIAN
A.
Jenis
Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan
adalah penelitian praktik dalam bentuk penelitian tindakan (action research)
dengan jenis diagnostik. Menurut Arikunto (1999) Penelitian tindakan ini
bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran yang
dilakukan oleh dosen dan guru. Dengan adanya penelitian kelas, tenaga pengajar
dapat mengarahkan perkembangan pendidikan dan pengajaran yang dilakukan oleh
tenaga pengajar.
B.
Setting
Penelitian
1.
Tempat
Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini
dilaksanakan di SMK Negeri 3
Sijunjung Kelas X dengan Program Keahlian Teknik Sepeda untuk Mata Diklat Kewirausahaan.
2.
Waktu
Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini
dilaksanakan di awal semester Januari - Juni tahun pelajaran 2012/2013 yaitu pada bulan April
sampai dengan Mei 2013. Penentuan waktu penelitian mengacu pada Kalender Pendidikan di
Sekolah.
3.
Penelitian
tindakan kelas ini dilakukan dengan tiga siklus untuk melihat peningkatan
motivasi belajar siswa dengan menggunakan metode pemberian tugas terstruktur
prapembelajaran.
C.
Subjek
Penelitian
Subjek dalam penelitian tindakan
kelas ini adalah peserta didik kelas X TSM SMK Negeri 3 Sijunjung dengan jumlah
siswa sebanyak 30 siswa. Alasan penulis memilih kelas ini sebagai subjek penelitian
adalah sebagai berikut:
1.
Motivasi yang dimiliki siswa dalam kelas cenderung
bervariasi dari rendah, sedang, tinggi. Hal ini terlihat dari kecenderungan
siswa yang sering keluar masuk kelas dan kurangnya perhatian siswa dalam proses
belajar mengajar.
2.
Kurangnya interaksi tanya jawab sewaktu guru
melakukan evaluasi di waktu pembelajaran.
D.
Rancangan
Penelitian
Penelitian didahului dengan analisis
segala permasalahan yang berkaitan dengan proses pembelajaran pada ruang kelas.
Selanjutnya permasalahan yang terdeteksi akan dilakukan perumusan masalah,
rencana tindakan yang akan diterapkan pada kelas sebagai upaya dalam memecahkan
masalah yang dihadapi oleh siswa dalam proses pembelajaran. Rencana penelitian
direncanakan adalah seperti model penelitian yang dikembangkan oleh Lewin dalam
Arikunto (1999: 83) dengan empat komponen pokok yang dapat menunjang
langkah-langkah penelitian yaitu, (1) perencanaan, (2) tindakan; (3)
pengamatan; (4) refleksi.
E.
Prosedur Penelitian
Penelitian
tindakan kelas ini akan dilaksanakan dalam 3 (tiga) siklus, dimana pada masing-masing siklus terdiri dari
perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan
(observation), dan refleksi (reflecting). Untuk lebih jelasnya peneliti membuat
prosedur penelitian tindakan kelas yang dilakukan, yaitu sebagai berikut:
1.
Perencanaan (planing)
Menurut
Arikunto (2000) rencana penelitian tindakan merupakan tidakan yang tersusun,
teratur yang akan diterapkan dalam penelitian, dan pandangan kedepan dalam
sebuah tindakan. Untuk itu perencanaan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
a.
Menganalisis kurikulum untuk mengetahui kopetensi
dasar yang akan disampaikan kepada peserta didik.
b.
Membuat rencana program pembelajaran (RPP)
c.
Menyiapkan lembar observasi
d.
Membuat soal-soal untuk latihan
e.
Memberikan bimbingan kepada peserta didik dalam
proses pembelajaran
f.
Menyusun tes atau instrumen penilaian
2.
Tindakan (acting)
Menurut
Madya (1994:20) action (tindakan) dalam penelitian tindakan kelas adalah
upaya yang dilakukan secara sadar dengan
perencanaan yang matang. Tidakan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah
aplikasi dari perencanaan yang telah direncanakan dalam perancanaan. Tindakan yang akan dilakukan adalah:
a.
Membuka
kegiatan belajar mengajar
b.
Mengkondisikan kelas dan mengabsensi kehadiran
peserta didik
c.
Menjelaskan materi pelajaran kepada peserta didik
d.
Memantau peserta didik dalam pembelajaran dan
memberikan arahan bila terjadi sesuatu kendala pada siswa.
e.
Berdiskusi atau melakukan tanya jawab dengan
dengan siswa.
f.
Memberikan tes akhir atau evaluasi kepada siswa
g.
Memberi tugas kepada siswa mengenai materi yang
akan dibahas pada pertemuan selanjutnya.
3.
Pemantauan (observasi)
Menurut
Madya (1994:22) observasi dilakukan untuk mendokumentasikan pengaruh tindakan
yang berkaitan. Pemantauan dilakukan oleh peneliti dengan mencatat segala
sesuatu yang terjadi pada lembar observasi yang telah disediakan sebelumnya,
pemantauan dilakukan ketika jam pembelajaran sedang berlangsung (dilakukan dari
awal sampai akhir). Hal-hal yang diamati oleh peneliti
meliputi 2 aspek yaitu:
a.
Kegiatan siswa selama proses pembelajaran di kelas
b.
Hasil belajar siswa yang didapatkan dari tes
tertulis
4.
Refleksi
Refleksi menurut Arikunto (2000: 29)
adalah mendapatkan data hasil pengamatan yang telah dilakukan dan kemudian
dijadikan dasar dalam menentukan tindakan selanjutnya. Sedangkan menurut Madya
(1994:23) refleksi adalah mengingat dan merenungkan kembali suatu tindakan
persis seperti yang telah dicatat dalam observasi. Refleksi berusaha memahami proses, masalah dan
persoalan serta tindakan dalam tindakan strategi.
Selama proses penelitian dari satu siklus ke
siklus berikutnya akan dilakukan analisis dan interprestasi terhadap proses
perubahan yang terjadi sebagai akibat tindakan yang diberikan. Refleksi yang
akan dilakukan dalam penelitian ini adalah mengumpulkan data secara kualitatif
yaitu dengan menggunakan catatan-catatan pada lembar
observasi.
F.
Teknik
Analisis Data
Teknik
analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif dan analisis persentasi.
Analisis deskriptif untuk mendapatkan gambaran data yang menjelaskan
faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar dengan menggunakan metode
pemberian tugas terstruktur prapembelajaran. Sedangkan analisis persentase
untuk mendapatkan seberapa persentase perkembangan peserta didik dalam
menggunakan metode pemberian tugas terstruktur prapembelajaran.
Dalam hal
ini rumus yang digunakan untuk mendapatkan persentasenya adalah menggunakan
rumus statistik persentase (Surachmad, 1990:9).
Keterangan:
X = besarnya persentase
f =
frekuensi
n = jumlah responden
BAB VI
HASIL PENELITIAN
A.
Deskripsi
Hasil Penelitian
1.
Siklus 1
(Metode Konvensional)
a.
Perencanaan
1)
Menganalisis
kurikulum untuk mengetahui kopetensi dasar yang akan disampaikan kepada peserta
didik dengan menggunakan metode pembelajaran pemberian tugas terstruktur
prapembelajaran.
2)
Membuat rencana program pembelajaran (RPP)
3)
Menyiapkan lembar observasi
4)
Membuat soal-soal untuk latihan
5)
Memberikan bimbingan kepada peserta didik dalam
proses pembelajaran
6)
Menyusun tes atau instrumen penilaian
b.
Tindakan
1)
Membuka
kegiatan belajar mengajar
2)
Mengkondisikan kelas dan mengabsensi kehadiran
peserta didik
3)
Menjelaskan materi pelajaran kepada peserta didik
4)
Memantau peserta didik dalam pembelajaran dan
memberikan arahan bila terjadi
sesuatu kendala pada siswa.
5)
Berdiskusi atau melakukan tanya jawab dengan dengan siswa.
6)
Memberikan tes akhir atau evaluasi kepada siswa
c.
Observasi
Mengamati kegiatan siswa selama
kegiatan belajar mengajar. Adapun hasil pengamatan yang dilakukan pada siklus I
dalam penelitian tindakan kelas
ini adalah sebagai
berikut:
Tabel 1. Aktivitas Positif Siswa dalam PBM pada siklus satu
|
No
|
Komponen yang Diamati
|
Jumlah 30 Siswa
|
|
|
Frekuensi
|
Persentase
|
||
|
1
|
Mengerjakan tugas
|
-
|
-
|
|
2
|
Bertanya kepada guru dalam PBM
|
3
|
10%
|
|
3
|
Menjawab pertanyaan yang diberikan guru
|
2
|
6,67%
|
|
4
|
Mengacungkan tangan saat diajukan
pertanyaan dalam PBM
|
2
|
6,67%
|
|
5
|
Mencatat
|
30
|
100%
|
Dari
tabel di atas dapat disimpukan bahwa motivasi siswa dalam mengikuti proses
belajar mengajar masih rendah, hal ini dapat dilihat rendahnya frekuensi aktivitas positif siswa. Siswa yang bertanya kepada guru dalam PBM hanya 10%. Kemudian siswa yang menjawab pertanyaan guru ketika diberikan
pertanyaan-pertanyaan hanya 6,67% dan siswa yang mengacungkan tangan saat diberikan pertanyaan
pertanyaan juga hanya 6,67%. Selanjutnya seluruh siswa mencatat materi-materi yang diberikan.
Tabel 2. Aktivitas Negatif Siswa dalam PBM pada siklus satu
|
No
|
Komponen yang Diamati
|
Jumlah 30 Siswa
|
|
|
Frekuensi
|
Persentase
|
||
|
1
|
Tidak mengerjakan tugas
|
-
|
-
|
|
2
|
Tidak mencatat
|
-
|
-
|
|
3
|
Bercanda
|
10
|
33,3%
|
|
4
|
Melamun
|
4
|
13,34%
|
|
5
|
Mengantuk
|
3
|
10%
|
|
6
|
Keluar masuk kelas
|
2
|
6,67%
|
|
7
|
Sibuk dengan kegiatan sendiri
|
5
|
16,6%
|
|
8
|
Tidak serius dalam PBM
|
8
|
26,67%
|
Untuk
kegiatan negatif siswa dalam PBM dapat dikatakan cukup tinggi dari segi
kehadiran seluruh siswa hadir di kelas. Namun siswa yang bercanda dalam PBM
cukup tinggi yaitu 33,3%. Kemudian
siswa yang melamun dan tidak fokus dalam PBM sebanyak 13,34%. Selanjutnya siswa yang mengantuk
sebesar 10%, Siswa yang keluar masuk kelas
selama PBM 6,67%. Siswa yang sibuk dengan
kegiatan sendiri sebanyak 16,6% dan siswa yang
tidak serius dalam PBM sebanyak 26,67%.
Selanjutnya ditinjau dari hasil
belajar dapat dilihat dari hasil test pada siklus I, dimana hasil belajar belum
memuaskan. Nilai test rata-rata pada siklus I adalah 71,03% selanjutnya siswa
yang dapat dikatakan tuntas dalam PBM yaitu siswa yang mendapatkan nilai lebih
besar sama dengan 70,00 sebesar 85%. Adapun hasil belajar pada siklus I dapat dilihat pada grafik berikut:


d.
Refleksi
Dari hasil observasi yang dilakukan
oleh peneliti dapat disimpulkan bahwa pada siklus I dimana proses belajar
mengajar dengan menggunakan metode konvensional motivasi siswa masih sangat
kecil sekali. Sehingga perlu usaha-usaha untuk meningkatkan motivasi belajar
siswa dengan bermacam-macam metode pembelajaran. Untuk itu diperlukan siklus II
dalam penelitian tindakan kelas kali ini.
2.
Siklus II (Metode Pemberian Tugas Terstruktur
Prapembelajaran)
a.
Perencanaan
1)
Menganalisis
kurikulum untuk mengetahui kopetensi dasar yang akan disampaikan kepada peserta
didik dengan menggunakan metode pembelajaran pemberian tugas terstruktur
prapembelajaran.
2)
Membuat rencana program pembelajaran (RPP)
3)
Menyiapkan lembar observasi
4)
Membuat soal-soal untuk latihan
5)
Memberikan bimbingan kepada peserta didik dalam
proses pembelajaran
6)
Menyusun tes atau instrumen penilaian
b.
Tindakan
1)
Membuka
kegiatan belajar mengajar
2)
Mengkondisikan kelas dan mengabsensi kehadiran
peserta didik
3)
Mengumpulkan tugas yang ke siswa diberikan pada
pertemuan sebelumnya
4)
Mengecek siswa yang mengumpulkan tugas dan siswa
yang tidak mengumpulkan tugas
5)
Memberi sanksi jika ada siswa ada yang tidak mengerjakan tugas
6)
Menanyakan kepada siswa, soal yang tidak dapat
dijawab oleh siswa.
7)
Menjelaskan materi pelajaran kepada peserta didik
dengan membahas tugas berupa soal yang telah dikerjakan oleh siswa sebelumnya.
8)
Melibatkan siswa dalam membahas tugas berupa soal
yang telah dikerjakan sehingga proses pembelajaran terkesan tidak monoton.
9)
Memantau peserta didik dalam pembelajaran dan
memberikan arahan bila terjadi sesuatu kendala pada siswa.
10)
Berdiskusi atau melakukan tanya jawab dengan
dengan siswa.
11)
Memberikan tes akhir atau evaluasi kepada siswa
e.
Observasi
Mengamati kegiatan siswa selama
kegiatan belajar mengajar. Adapun hasil pengamatan yang dilakukan pada siklus
II dalam penelitian tindakan kelas ini adalah
sebagai berikut:
Tabel 3. Aktivitas Positif Siswa dalam PBM pada siklus dua
|
No
|
Komponen yang Diamati
|
Jumlah 30 Siswa
|
|
|
Frekuensi
|
Persentase
|
||
|
1
|
Mengerjakan tugas
|
27
|
90%
|
|
2
|
Bertanya kepada guru dalam PBM
|
5
|
16,67%
|
|
3
|
Menjawab pertanyaan yang diberikan guru
|
17
|
56,67%
|
|
4
|
Mengacungkan tangan saat diajukan pertanyaan dalam PBM
|
19
|
63,34%
|
|
5
|
Mencatat
|
30
|
100%
|
Dari tabel di atas dapat ketahui bahwa
terjadi peningkatan motivasi motivasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari
adanya peningkatan aktifitas positif siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar.
Dari 30
siswa yang hadir 90% siswa mengerjakan tugas yang diberikan. Siswa yang bertanya
kepada guru dalam PBM meningkat dari siklus I yaitu 10% menjadi 16,67% pada siklus II.
Kemudian siswa yang menjawab pertanyaan guru ketika diberikan pertanyaan-pertanyaan
juga mengalami peningkatan yang cukup tinggi yaitu dari 6,67% menjadi 56,67%. Begitu juga dengan
siswa yang mengacungkan tangan saat diberikan pertanyaan-pertanyaan mengalami
peningkatan dari hanya 6,67% menjadi 63,34%. Selanjutnya seluruh siswa mencatat materi-materi yang diberikan,
namun siswa tidak lagi disibukan dengan kegiatan mencatat ketika guru sedang
memberikan materi.
Tabel 4. Aktivitas Negatif Siswa dalam PBM pada siklus dua
|
No
|
Komponen yang Diamati
|
Jumlah 30 Siswa
|
|
|
Frekuensi
|
Persentase
|
||
|
1
|
Tidak mengerjakan tugas
|
3
|
10%
|
|
2
|
Tidak mencatat
|
-
|
-
|
|
3
|
Bercanda
|
4
|
13,34%
|
|
4
|
Melamun
|
2
|
6,67%
|
|
5
|
Mengantuk
|
1
|
3,34%
|
|
6
|
Keluar masuk kelas
|
1
|
3,34%
|
|
7
|
Sibuk dengan kegiatan sendiri
|
7
|
23,34%
|
|
8
|
Tidak serius dalam PBM
|
7
|
23,34%
|
Dari
tabel di atas juga dapat disimpulkan bahwa pada siklus II motivasi belajar
siswa mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari penurunan aktifitas
negatif siswa dalam mengikuti Proses Belajar Mengajar. Siswa yang bercanda
dalam PBM mengalami penurunan dari siklus I yaitu 33,3% menjadi 13,34%. Kemudian siswa yang melamun dan
tidak fokus dalam PBM juga mengalami penurunan dari 13,34% menjadi 6,67%. Selanjutnya siswa yang
mengantuk juga mengalami penurunan dari 10% menjadi 3,34%. Setelah itu siswa yang keluar masuk kelas selama PBM juga mengalami punurunan
dari 6,67% menjadi 3,34%. Siswa yang sibuk dengan kegiatan sendiri justru mengalami peningkatan
dari 15,2% menjadi 23,34%. Kemudian siswa yang tidak
serius dalam PBM mengalami penurunan dari 26,67% menjadi 23,34%.
Selanjutnya ditinjau dari hasil
belajar dapat dilihat pada siklus II terjadi peningkatan dibandingkan Siklus I,
pada siklus I nilai rata-rata test adalah 71,03 sedangkan pada siklus II meningkat menjadi
72,27%. Kemudian siswa yang dapat dikatakan tuntas dalam PBM yaitu siswa yang
mendapatkan nilai lebih besar sama dengan 70,00 pada siklus II juga mengalami
peningkatan jika dibandingkan siklus I. pada siklusa I siswa yang dapat
dikatakan tuntas dalam PBM sebesar 85% dan pada siklus II sebesar 93,93%. Adapun perbandingan hasil belajar pada
siklus I dan siklus II dapat dilihat pada grafik berikut:


f.
Refleksi
Dari
hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti dapat disimpulkan bahwa pada
siklus II dengan menggunakan metode pemberian tugas terstruktur prapembelajaran
terjadi peningkatan motivasi belajar siswa dalam mengikuti PBM dibandingkan
motivasi belajar siswa pada siklus I yang menggunakan metode konvensional.
Namun di sisi lain kelas agak ribut, dimana siswa masih banyak sibuk dengan
kegiatan sendiri-sendiri sehingga menurut peneliti masih di perlukan siklus
III.
3.
Siklus III (Metode Pemberian Tugas Terstruktur
Prapembelajaran)
a.
Perencanaan
1)
Menganalisis
kurikulum untuk mengetahui kopetensi dasar yang akan disampaikan kepada peserta
didik dengan menggunakan metode pembelajaran pemberian tugas terstruktur
prapembelajaran.
2)
Membuat rencana program pembelajaran (RPP)
3)
Menyiapkan lembar observasi
4)
Membuat soal-soal untuk latihan
5)
Memberikan bimbingan kepada peserta didik dalam proses
pembelajaran
6)
Menyusun tes atau instrumen penilaian
b.
Tindakan
1)
Membuka
kegiatan belajar mengajar
2)
Mengkondisikan kelas dan mengabsensi kehadiran
peserta didik
3)
Mengumpulkan tugas yang telah diberikan kepada
siswa pada pertemuan sebelumnya
4)
Mengecek siswa yang mengumpulkan tugas dan siswa
yang tidak mengumpulkan tugas
5)
Menanyakan kepada siswa, soal yang tidak dapat
dijawab oleh siswa.
6)
Menjelaskan materi pelajaran kepada peserta didik
dengan membahas tugas berupa soal yang telah dikerjakan oleh siswa sebelumnya.
7)
Melibatkan siswa dalam membahas tugas berupa soal
yang telah dikerjakan sehingga proses pembelajaran terkesan tidak monoton.
8)
Menjelaskan materi pelajaran kepada peserta didik
9)
Memantau peserta didik dalam pembelajaran dan
memberikan arahan bila terjadi sesuatu kendala pada siswa.
10)
Berdiskusi atau melakukan tanya jawab dengan
dengan siswa.
11)
Memberi teguran kepada siswa yang membuat
keributan di dalam kelas
12)
Memotivasi siswa agar lebih aktif dalam PBM
13)
Memberikan tes akhir atau evaluasi kepada siswa
c.
Observasi
Mengamati
kegiatan siswa selama kegiatan belajar mengajar. Adapun hasil pengamatan yang
dilakukan pada siklus III dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai
berikut:
Tabel 5. Aktivitas Positif
Siswa dalam PBM pada siklus tiga
|
No
|
Komponen yang Diamati
|
Jumlah 33 Siswa
|
|
|
Frekuensi
|
Persentase
|
||
|
1
|
Mengerjakan tugas
|
30
|
100%
|
|
2
|
Bertanya kepada guru dalam PBM
|
8
|
26,67%
|
|
3
|
Menjawab pertanyaan yang diberikan guru
|
18
|
60%
|
|
4
|
Mengacungkan tangan saat diajukan pertanyaan dalam PBM
|
18
|
60%
|
|
5
|
Mencatat
|
30
|
100%
|
Dari tabel di atas secara umum dapat
diketahui pada siklus III tidak terjadi penurunan aktifitas positif siswa yang
signifikan dalam PBM dibandingkan siklus II. Bisa dikatakan seluruh siswa
mengerjakan tugas. Selanjutnya siswa yang bertanya kepada guru sedikit
meningkat dari 16,67% menjadi 26,67%. Begitu juga dengan siswa yang menjawab pertanyaan-pertanyaan
yang dilemparkan oleh guru sedikit mengalami peningkatan dari 56,67% menjadi 60%. Namun siswa yang
mengacungkan tangan justru sedikit mengalami penurunan dari 63,34% menjadi 60%.
Tabel 6. Aktifitas
Negatif Siswa dalam PBM pada siklus tiga
|
No
|
Komponen yang Diamati
|
Jumlah 30 Siswa
|
|
|
Frekuensi
|
Persentase
|
||
|
1
|
Tidak mengerjakan tugas
|
1
|
3,34%
|
|
2
|
Tidak mencatat
|
-
|
-
|
|
3
|
Bercanda
|
2
|
6,67%
|
|
4
|
Melamun
|
2
|
6,67%
|
|
5
|
Mengantuk
|
1
|
3,34%
|
|
6
|
Keluar masuk kelas
|
1
|
3,34%
|
|
7
|
Sibuk dengan kegiatan sendiri
|
5
|
16,67%
|
|
8
|
Tidak serius dalam PBM
|
3
|
10%
|
Dari tabel aktifitas negatif siswa
dalam mengikuti PBM pada siklus III di atas dapat disimpulkan secara umum tidak
terjadi peningkatan aktifitas negatif siswa jika dibandingkan dengan siklus II.
Siswa yang tidak mengerjakan tugas tetap ada yaitu sebesar 3,34%. Selanjutnya siswa
yang sibuk dengan kegiatan sendiri mengalami penurunan dari siklus II sebesar 23,34% menjadi 16,67%. Kemudian siswa
yang tidak serius dalam mengikuti PBM juga mengalami penurunan dari 23,34% menjadi 10%. Namun demikian aktivitas-aktivitas negatif siswa
tersebut masih dalam taraf kewajaran
Selanjutnya
ditinjau dari hasil belajar dapat dilihat pada siklus III terjadi sedikit
peningkatan dibandingkan Siklus II, pada siklus II nilai rata-rata test adalah
72,27 sedangkan pada silus III meningkat menjadi 75,1. Kemudian siswa yang
dapat dikatakan tuntas dalam PBM yaitu siswa yang mendapatkan nilai lebih besar
sama dengan 70,00 pada siklus III juga mengalami peningkatan jika dibandingkan
siklus II. pada siklus II siswa yang dapat dikatakan tuntas dalam PBM sebesar
93,93% dan pada siklus III sebesar 100%. Dengan
demikian dapat dikatakan seluruh siswa telah tuntas dalam PBM pada materi yang
disampaikan pada hari teesebut Adapun perbandingan hasil belajar pada siklus I, siklus II dan siklus III
dapat dilihat pada grafik berikut:


d.
Refleksi
Dari hasil observasi yang dilakukan
oleh peneliti dapat disimpulkan bahwa pada siklus III dengan menggunakan metode
pemberian tugas terstruktur prapembelajaran terjadi peningkatan motivasi
belajar siswa dalam mengikuti PBM dibandingkan motivasi belajar siswa pada siklus
II. Walaupun masih ada
aktifitas-aktifitas negatif siswa namun dapat dikatakan masih dalam tahap
kewajaran. Dari segi hasil belajar juga dapat dikatakan seluruh siswa telah
tuntas dalam PBM dimana 100% siswa mendapatkan nilai lebih besar sama dengan 7,00.
B.
Pembahasan
Dari deskripsi data yang telah diuraikan sebelumnya dapat dikatakan
bahwa pada siklus I yang menggunakan metode belajar biasa atau konvensional
motivasi belajar siswa masih sangat rendah sekali. Hal ini dapat dilihat dari
rendahnya aktifitas positif siswa dalam PBM seperti bertanya kepada guru,
menjawab pertanyaan-pertanyaan guru dan lain sebagainya. Sebaliknya aktifitas
negatif siswa seperti bercanda, mengantuk, keluar masuk kelas dan lain-lain
cukup tinggi sekali. Dilihat dari hasil belajar juga belum memuaskan karena
masih terdapat 15% siswa yang belum
tuntas dalam PBM.
Dilihat dari aktifitas dalam mencatat bisa dikatakan seluruh siswa
mencatat. Hal ini dikarenakan siswa masih menganggap mencatat meruapakan hal
yang sangat penting. Namun proses pembelajarn menjadi tidak efisien dikarenakan
guru harus mendiktekan materi ajar yang akan disampaikan sehingga menghabiskan
waktu. Selain itu juga kurang efektif karena di saat guru sedang menjelaskan
pelajaran banyak siswa juga yang disibukan dengan aktifitas mencatat.
Pada siklus II yang menggunakan metode pemberian tugas terstruktur
prapembelajaran motivasi belajar siswa dalam mengikuti PBM mengalami
peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya aktifitas positif siswa
dan menurunnya aktifitas negatif siswa. Siswa yang bertanya kepada guru selama
PBM berlangsung meningkat dari 10% menjadi 16,67%. Kemudian siswa yang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
dilemparkan guru dalam PBM juga mengalami peningkatan yang cukup tinggi dari 6,67% menjadi 56,67%. Selanjutnya aktivitas-aktivitas negatif siswa
seperti bercanda, mengantuk, tidak serius dalam belajar dan lain-lain mengalami
penurunan. Dari segi hasil belajar juga mengalami peningkatan, dimana 93,93%
siswa mendapat nilai lebih besar samadengan 7,00.
Hal ini bisa terjadi karena dengan pemberian tugas prapembelajaran
siswa sudah mengetahui bahan ajar atau materi yang akan dipelajari pada hari
itu. Sehingga ketika PBM berlangsung siswa dapat menaggapi
pertanyaan-pertanyaan yang dilemparkan oleh guru. Selanjutya ketika ada hal
yang tidak dimengerti dalam mengerjakan tugas langsung ditanyakan dalam PBM.
Selain itu pada siklus II ini PBM menjadi lebih efektif dan efisien, guru tidak
prlu mendiktekan materi pelajaran karena siswa sudah memiliki bahan ajar dari
tugas-tugas yang telah mereka kerjakan sebelumnya. Namun siswa sedikit ribut
saat guru sedang memeriksa tugas yang dikerjakan siswa, hal ini berlangsung
sekitar kurang lebih 10 menit di awal PBM sehingga perlu strategi khusus guru.
Pada siklus III yang juga menggunakan metode pemberian tugas
terstruktur prapembelajaran terjadi sedikit peningkatan motivasi belajar yang
dapat dilihat dari meningkatnya aktifitas positif siswa dan menurunnya
aktifitas negatif siswa. Selanjutnya dari hasil belajar dapat dikatakan 100%
siswa telah tuntas dalam PBM pada materi yang diberikan pada hari itu. Siswa
juga tidak ribut saat guru memeriksa tugas yang mereka kumpulkan, karena
setelah diperiksa tugas langsung dibagikan dan jika siswa tersebut tidak mendengar
saat namanya dipanggil maka akann dianggap alfa dalam absensi kehadiran.
Dari uraian-uraian di atas didapatkan bahwa dengan menggunakan metode pemberian tugas
terstruktur prapembelajaran dapat menigkatkan motivasi belajar siswa dalam
proses belajar mengajar. Selain itu dengan menggunakan metode pemberian tugas
terstrukur prapembelajaran ini efiensi dan eketifitas dalam proses belajar
mengajar juga akan meningkat.
BAB
V
PENUTUP
A.
Simpulan
Berdasarkan
hasil dan pembahasan penelitian maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.
Penerapan metode pemberian tugas terstruktur
prapembelajaran dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal ini dapat
dilihat dari meningkatnya aktifitas positif siswa dan menurunnya aktifitas
negatif siswa dalam PBM
2.
Peneraapan metode pemberian tugas terstrukur
prapembelajaran dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas siswa dalam proses
belajar mengajar.
3.
Hasil perolehan nilai dari siklus I hingga siklus
III menunjukan mengalami peningkatan yaitu:
a.
Nilai rata-rata siklus pertama : 71,03
b.
Nilai rata-rata siklus kedua : 72,27
c.
Nilai rata-rata siklus ketiga : 75,10
4.
Ketuntasan siswa dalam
mengikuti proses belajar mengajar dari siklus I hingga siklus III mengalami
peningkatan yaitu:
a.
Siswa yang
tuntas dalam PBM pada siklus I :
85%
b.
Siswa yang
tuntas dalam PBM pada siklus II :
93,93%
c.
Siswa yang
tuntas dalam PBM pada siklus III :
100%
B.
Saran
Berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan, maka saran yang dapat berikan oleh penulis sendiri adalah:
1.
Dalam
proses pembelajaran, pemilihan metode yang dilakukan oleh guru harus tepat,
agar pembelajaran lebih menarik, menyenangkan, dan tidak membosankan.
2.
Penerapan
metode pemberian tugas terstruktur prapembelajaran sebagai alternatif yang
perlu dikembangkan dalam pembelajaran karena dapat meningkatkan motivasi
belajar siswa.
3.
Penerapan
metode pemberian tugas terstruktur prapebelajaran dapat meningkatkan hasil
belajar siswa.
4.
Penerapan
metode pemberian tugas terstruktur prapebelajaran dapat meningkatkan tigkat
ketuntasan siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi.2003. Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi. Jakarta:
PT Pineka Cipta
Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. 1999. Penelitian Tindakan Kelas, Direktorat Jendral
Pendidikan Tinggi. Proyek Guru Sekolah Menengah
Hasan, Chalijah. (1994) Dimensi
Psikologi Pendidikan. Surabaya: Al-Ikhlas
Latief, Suryawahyuni.
(2008). Meningkatkan Motivasi Belajar. Jambi Ekspress Online.
Majid, Abdul. 2007. Perencanaan
Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Nasution, S. (1995). Didaktik
Asas-asas Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.
Sudirman. (2007). Interaksi
dan Motivasi belajar Mengajar. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Sagala, Syaiful. (2003). Konsep
dan makna pembelajaran. bandung : CV.Al fabeta.
Slameto. (2003). Belajar dan Faktor-faktor yang
mempengaruhinya. Jakarta
: Rineka Cipta.
Sudirjo, Sudarsono dan
Efeline Siregar. (2004). Media pembelajaran sebagai pilihan dalam Strategi
Pembelajaran. Jakarta : Universitas Negeri Jakarta.
Sudjana, Nana. (1990). Penilaian
Hasil Belajar Mengajar. Bandung: PT. Rosdakarya
Syah, Muhibbin. (2006). Psikologi
Belajar. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Uno, Hamzah. (2006). Teori
Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta : Bumi Aksara.
Zami, Hisyam. (2004). Strategi
Pembelajaran Aktif. Yogyakarta : CSTD
Winardi, J. (2001). Motivasi
dan Pemotasian dalam manajemen. Jakarta : Raja Grafindo Persada.