BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Sektor pertanian sangat penting peranannya sebagai sumber
pendapatan yang utama bagi masyarakat petani, umumnya para petani memproduksi
hasil pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari – harinya. Pendapatan
petani saat ini merupakan masalah yang sangat serius karena pendapatan yang diperoleh petani selalu berubah yang disebabkan oleh
berbagai faktor salah satunya faktor cuaca dan keadaan pasar.
Agribisnis yang merupakan suatu rangkaian sistem usaha
berbasis pertanian harus mendapat perhatian penuh untuk mengembangkan sektor
pertanian. Usaha tani yang dikembangkan dalam rangka peningkatan sektor
perekonomian adalah organisasi yang berasal dari alam (lahan), tenaga kerja,
dan modal yang ditujukan kepada produksi di kegiatan pertanian. Organisasi
tersebut ketatalaksanaanya berdiri sendiri dan sengaja diusahakan oleh
seseorang atau sekumpulan orang sebagai pengelolanya.
Kegiatan usaha tani yang dijadikan sebagai penopang hidup oleh
masyarakat petani mengusahakan berbagai macam produk pertanian baik pangan maupun
sub sektor tanaman perkebunan rakyat. Tanaman karet termasuk tanaman sub sektor
tanaman perkebunan rakyat, tanaman karet banyak ditemukan di berbagai daerah
yang tersebar diseluruh Indonesia, termasuk di Propinsi Sumatera Barat. Menurut
BPS (2009) Propinsi Sumatera Barat merupakan salah satu sentra penghasil karet
di Indonesia. Salah satu sentra terbesar penghasil karet di Propinsi Sumatera
Barat terletak di Kabupaten Sijunjung.
Komoditi karet
dijadikan sebagai usaha tani bagi masyarakat yang tinggal di Kabupaten
Sijunjung karena pada umumnya lahan pertanian yang dimiliki oleh petani relatif
sempit dan masih menggunakan teknik budidaya yang sederhana, kemudian dalam
proses pengelolaan lahan pertanian karet tersebut dilakukan secara sederhana
tanpa menggunakan tenaga kerja lain selain pemilik dan keluarga dari pemilik
lahan tersebut.
Komoditi karet
merupakan salah satu komoditi prioritas yang dipilih oleh pemerintah kabupaten
Sijunjung, karena berdasarkan cuaca dan kondisi iklim di Kabupaten Sijunjung tergolong pada tipe
tropis basah dengan musim hujan dan kemarau yang silih berganti sepanjang
tahun. Kabupaten
Sijunjung merupakan daerah yang memiliki luas area sebesar 313.080 Ha. Perekonomian Kabupaten
Sijunjung bertumpu pada sektor pertanian dan perkebunan, sektor perkebunan yang
menonjol adalah perkebunan karet tercatat selama tahun 2007 rata-rata
produktivitas karet per hektar per tahun adalah 2.600 Kg.
Tabel 1.
Luas Lahan Produktif dan Jumlah Produksi Lahan Karet di Kabupaten Sijunjung Tahun 2006 – 2012
|
Tahun
|
Luas lahan (Ha)
|
Perkembangan
|
Jumlah Produksi (Ton)
|
Perkembangan
|
|
2006
|
25100
|
-
|
61367
|
-
|
|
2007
|
26763
|
6,22 %
|
63232
|
2,94 %
|
|
2008
|
26763
|
0 %
|
63699
|
0,74 %
|
|
2009
|
27898
|
4,07 %
|
64216
|
0,81%
|
|
2010
|
27899
|
-
|
64216
|
-
|
|
2011
|
27324
|
-2,11%
|
49699
|
-22,61%
|
|
2012
|
27661
|
1,21%
|
50183
|
0,96%
|
Sumber: BPS Kabupaten Sijunjung: 2013
Berdasarkan
Tabel
dapat dilihat bahwa perkembangan luas lahan produktif karet dan jumlah produksi
karet terus mengalami peningkatan, kecuali luas lahan pada tahun 2008 yang
tidak mengalami perluasan lahan produktif dari tahun sebelumnya, akan tetapi
produktivitas karet yang dihasilkan tetap meningkat yaitu sekitar 0, 74 % dari
tahun sebelumnya. Kemudian luas lahan dan jumlah produksi karet pada tahun 2009
tetap mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 4,07 % untuk
peningkatan luas lahan lahan produktif dan sebesar 0,81 % untuk peningkatan
jumlah produksi karet, kemudian pada tahun 2010 luas lahan dan produksi karet
tidak mengalami kenaikan, tetapi pada
tahun 2011 luas lahan karet mengalami penurunan sebesar -2,1% yang juga
berpengaruh terhadap produksi karet yang ikut mengalami penurunan sebesar
-22,61%, selanjutnya kembli mengalami pertumbuhan luas lahan sebesar 1,21% dan
produktivitas sebesar 0,96% pada tahun
2012.
Untuk meningkatkan produksi karet yang akhirnya dapat meningkatkan pendapatan petani karet di kecamatan IV Nagari diduga dapat
dipengaruhi oleh berbagai input yaitu produksi, harga karet, tingkat pendidikan, umur karet, biaya usaha dalam
bertani karet dan jenis bibit karet yang digunakan, faktor biaya usaha timbul karena pemilikan lahan untuk
menghasilkan karet merupakan lahan milik petani sendiri, dari penguasaan lahan
juga dapat mempengaruhi biaya usaha tani karet karena dari awal penanaman,
pemilihan bibit dan sampai pada perawatan sebelum panen dilakukan dan dibiayai
oleh masing – masing pemilik lahan karet.
Produksi karet diduga dapat mempengaruhi pendapatan petani
karet dimana dengan adanya peningkatan jumlah produksi karet yang dihasilkan
maka kemungkinan juga dapat mempengaruhi pendapatan yang akan diperoleh.
Peningkatan produksi karet dapat dilakukan dengan cara perluasan luas areal
tanam karet, semakin luas areal tanaman karet maka diduga produktivitas yang
dihasilkan pun akan berpotensi mengalami kenaikan. Peningkatan jumlah produksi karet harus didukung oleh
lembaga pendukung pertanian dan para petani yang saling mendukung dalam
pengembangan tani karet yang memungkinkan dapat mempengaruhi peningkatan
pendapatan para petani karet.
Selain faktor - faktor yang disebutkan faktor harga juga
dapat mempengaruhi pendapatan petani karet, harga karet sering mengalami
fluktuasi setiap waktu. Ketika harga
karet tinggi maka pendapatan petani karet diduga juga meningkat karena output
yang dihasilkan juga meningkat, tetapi
jika harga karet mengalami penurunan maka pendapatan petani karet pun ikut
mengalami penurunan.
Tingkat pendidikan yang dimiliki oleh petani karet diduga
dapat berpengaruh terhadap pendapatan yang akan diperoleh oleh petani tersebut,
Karena pendidikan ini berhubungan dengan kemampuan petani dalam mengelola lahan
karet yang dimilikinya serta menggunakan factor produksi yang dimilikinya
secara efektif dan efisien sehingga dapat memaksimalkan keuntungan yang akan
diperolehnya.
Semakin tinggi
tingkat pendidikan seseorang, maka pengetahuan dan keahlian juga akan meningkat
sehingga akan mendorong peningkatan produktivitas seseorang. Perusahaan akan
memperoleh hasil yang lebih banyak dengan mempekerjakan tenaga kerja dengan
produktivitas yang lebih tinggi, sehingga perusahaan akan bersedia memberikan
upah/gaji yang lebih tinggi kepada yang bersangkutan. Pada akhirnya seseorang
yang memiliki produktivitas yang tinggi akan memperoleh kesejahteraan yang
lebih baik, yang dapat diperlihatkan melalui peningkatan pendapatan maupun
konsumsinya (Kumalasari :2012:19)
Selain tingkat
pendidikan variabel umur karet diduga juga dapat
mempengaruhi pendapatan petani karet karena berhubungan dengan produksi karet yang dihasilkan. Umur maksimal
karet yang sudah dapat dipanen adalah tanaman karet yang sudah berumur lebih
kurang lima tahun. Tanaman karet yang dapat menghasilkan sekitar 25 sampai 45 tahun, tergantung dari jenis bibit yang digunakan. Sebagian
tanaman karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung berumur diatas 20
tahun, dan sebagian lagi sudah diremajakan dengan penanaman bibit karet yang
disarankan oleh Balai Penelitian Pertanian setempat yang sekarang rata – rata
sudah berumur lebih kurang 10 tahun. Kemudian biaya usaha dalam melakukan usaha
tani karet muncul karena proses penggarapan lahan, penggunaan tenaga kerja,
penggunaan bibit, pemakaian pupuk sampai pada biaya perawatan lahan sebelum
tanaman karet dapat dipanen. Biaya usaha dapat mempengaruhi pendapatan petani
karet karena biasanya semakin petani meningkatkan perawatan terhadap tanaman
karet baik dari segi jenis bibit ataupun perawatan tanah, maka biasanya
produksi karet yang dihasilkan petani pun meningkat.
Kemudian variabel lain yang diduga juga mempengaruhi
pendapatan petani karet adalah jenis bibit yang digunakan oleh petani karet
yaitu ada jenis bibit unggul dan jenis bibit lokal. Jenis bibit unggul
cenderung memproduksi getah karet lebih banyak dari pada jenis bibit lokal
sehingga dapat berpengaruh secara langsung terhadap pendapatan petani karet.
Pengembangan tanaman karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung terdiri atas
dua jenis bibit karet, yaitu jenis bibit karet kampung atau bibit lokal dan
jenis bibit karet bersertifikat atau yang lebih dikenal dengan istilah bibit
unggul. Perbedaan jenis tanaman karet yang ditanam dapat mempengaruhi jumlah produksi getah karet yang dihasilkan petani karet sehingga diduga
berpengaruh langsung ke pendapatan yang akan diperoleh petani karet.
Berdasarkan latar belakang diatas, dalam menganalisis sejauh
mana faktor produksi, harga karet, tingkat
pendidikan, umur karet, biaya usaha dalam tani karet dan jenis bibit karet
dapat mempengaruhi pendapatan petani karet maka penulis
tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor – faktor tersebut. Penelitian ini
berjudul “ Faktor – faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Petani Karet Di
Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung”.
B. Identifikasi Masalah
Sebagaimana yang telah diuraikan dalam latar belakang diatas
maka penulis mencoba untuk mengidentifikasi masalah sebagai berikut :
1.
Luas
lahan yang dimiliki oleh petani karet yang relatif tidak terlalu luas sehingga
akan dapat mempengaruhi pendapatan petani karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung
2.
Banyaknya
tanaman karet petani yang sudah tua sehingga mempengaruhi produktivitas tanaman
karet sehingga berpengaruh terhadap pendapatan
petani karet.
3.
Biaya
usaha tani karet yang semakin tinggi akan dapat mempengaruhi pendapatan petani
karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung
4.
Harga
karet yang cenderung tidak stabil dapat mempengaruhi pendapatan petani karet di
Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung.
5.
Jumlah
produksi tanaman karet yang dihasilkan petani karet cenderung tidak mengalami
peningkatan di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung.
6.
Tingkat
pendidikan yang dimiliki oleh petani rata- rata tidak sesuai dengan pendidikan
standar yang diwajibkan sehingga dapat mempengaruhi besarnya pendapatan yang
akan diperoleh.
7.
Jenis
bibit yang digunakan oleh petani karet bervariasi, sehingga dapat mempengaruhi
pendapatan yang diperoleh oleh petani karet.
C. Pembatasan Masalah
Dari masalah yang terdapat pada latar belakang dan
identifikasi masalah maka penulis membatasi penelitian ini pada Produksi karet,
Harga karet, Tingkat Pendidikan Petani, Umur karet, Biaya usaha tani karet dan
Jenis bibit karet serta pengaruhnya terhadap Pendapatan Petani Karet di
Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung.
D. Rumusan Masalah
Berdasakan latar belakang dan batasan masalah diatas maka
rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Sejauh mana pengaruh produksi karet
terhadap pendapatan petani karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung?
2. Sejauh mana pengaruh harga karet
terhadap pendapatan petani karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung?
3. Sejauh mana pengaruh tingkat
pendidikan petani karet terhadap pendapatan petani karet di Kecamatan IV Nagari
Kabupaten Sijunjung?
4. Sejauh mana pengaruh umur karet
terhadap pendapatan petani karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung?
5. Sejauh mana pengaruh biaya usaha
tani karet terhadap pendapatan petani karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten
Sijunjung?
6. Sejauh mana pengaruh jenis bibit
karet yang digunakan oleh petani karet terhadap pendapatan petani karet di
Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung.
7. Sejauh mana pengaruh produksi, harga
karet, tingkat pendidikan, umur karet, biaya usaha tani karet dan Jenis bibit
karet terhadap pendapatan petani karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten
Sijunjung?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang diteliti maka penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis dan mengetahui :
1. Pengaruh produksi karet terhadap
pendapatan petani karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung.
2. Pengaruh harga karet terhadap
pendapatan petani karet di Kecamatan IV Nagari kabupaten Sijunjung.
3. Pengaruh tingkat pendidikan terhadap
pendapatan petani karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung.
4. Pengaruh umur karet terhadap
pendapatan petani karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung
5. Pengaruh biaya usaha tani karet
terhadap pendapatan petani karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung.
6. Pengaruh jenis bibit karet yang
digunakan terhadap pendapatn petani karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten
Sijunjung.
7. Pengaruh produksi, harga karet,
tingkat pendidikan petani, umur karet, biaya usaha tani karet dan Jenis bibit
karet terhadap pendapatan petani karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten
Sijunjung.
F. Manfaat Penelitian
1. Untuk penulis, sebagai syarat untuk
meraih gelar sarjana pendidikan.
2. Untuk pengembangan dalam ilmu
ekonomi mikro yaitu teori produksi, biaya usaha dan pendapatan.
3. Untuk bahan pertimbangan atau
masukan bagi lembaga atau dinas
pertanian dalam peningkatan mutu dan kualitas hasil produksi karet
sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
BAB II
KAJIAN
TEORI, KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS
A. Kajian
teori
1. Pendapatan
a. Pengertian
pendapatan
Pendapatan usaha
tani menurut Hastuti (2007:106) merupakan selisih antara penerimaan dan semua
biaya, atau dengan kata lain pendapatan meliputi pendapatan kotor atau
penerimaan total dan pendapatan bersih. Pendapatan kotor atau penerimaan total adalah
adalah nilai produksi komoditas pertanian secara keseluruhan sebelum dikurangi
biaya produksi.
2. Faktor
– faktor yang mempengaruhi pendapatan petani karet
1. Produksi
pertanian
Menurut Sukirno (2003 :193) secara
umum konsep produksi digunakan sebagai pendekatan terhadap aktivitas dalam
proses produksi yang menjelaskan hubungan antar faktor – faktor produksi
(input) dengan proses produksi itu sendiri (output).
Sedangkan menurut Suratiyah
(dalam, Suzana, 2007: 65) jika permintaan akan produksi tinggi maka harga
ditingkat petani akan tinggi pula sehingga dengan biaya yang sama petani akan
memperoleh pendapatan yang lebih tinggi. Sebaliknya jika petani telah berhasil
meningkatkan produksi tetapi harga turun maka pendapatan petani akan turun pula.
2. Harga
karet
Menurut Sukirno (dalam Alwi, 2009:25) harga adalah suatu jumlah yang
dibayarkan sebagai pengganti kepuasan yang sedang atau akan dinikmati dari
suatu barang atau jasa yang diperjualbelikan. Harga merupakan perjanjian
moneter terakhir yang menjadi nilai dari pada suatu barang atau jasa, sedangkan harga menurut Kadariah (dalam
Alwi, 2009:25) adalah tingkat kemampuan suatu barang atau jasa untuk ditukarkan
dengan barang lain, harga ditentukan oleh dua kekuatan yaitu permintaan dan
penawaran yang saling berjumpa dalam pasar (tiap organisasi tempatpenjual dan
pembeli suatu benda dipertemukan).
3. Tingkat
pendidikan
Pendidikan yang
didapat seseorang akan mengembangkan dan meningkatkan kemampuannya. Seseorang
dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi memungkinkan dirinya untuk bekerja
lebih produktif dibandingkan dengan yang berpendidikan rendah. Hal ini
disebabkan karena tenaga kerja mempunyai pendidikan tinggi akan mempunyai
wawasan, pengalaman dan kematangan dalam berfikir dalam bekerja lebih baik
(Melati,2008:40)
Menurut Yusuf dalam Suzana (2007:11) tingkat pendidikan seseorang akan
mempengaruhi seseorang dalam mencapai keberhasilan, maka semakin tinggi
pendidikan seseorang maka akan tinggi pula keberhasilannya dalam menyelesaikan
tugasnya. Begitu juga sebaliknya jika semakin rendah tingkat pendidikan
seseorang maka akan rendah pula keberhasilannya dalam menyelesaikan tugasnya.
4. Umur
karet
Menurut Soemartono (2008:11) pohon karet mulai disadap rata-rata
ketika berumur 6 tahun dan berproduksi secara efektif sampai
puluhan tahun, atau lilit batang mencapai 45 cm dengan ketinggian 100 cm dari
permukaan tanah. Penyadapan dilakukan setiap hari dengan sistem sadap
bervariasi yaitu V2 d2 (penyadapan berbentuk huruf V yang disadap setiap dua
hari sekali) atau S1 d2 (penyadapan berbentuk spiral yang disadap setiap dua
hari sekali).
5. Biaya
usaha Tani
a)
Pengertian biaya usaha
Menurut Sadono
Sukirno (2006 :208) biaya produksi adalah semua pengeluaran yang dilakukan oleh
perusahaan untuk memperoleh faktor – faktor produksi dan bahan – bahan mentah
yang akan untuk menciptakan barang – barang yang diproduksikan perusahaan
tersebut.
Menurut
Suherman Rosyidi dalam buku Pendekatan Kepada Teori Ekonomi Mikro dan Makro
(2009) biaya produksi adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh pengusaha untuk
dapat menghasilkan output, seorang pengusaha yang ingin melakukan produksi
tentu harus terlebih menyediakan faktor – faktor produksi itu.
6. Jenis
bibit
Menurut Hastuti (2007: 39) bibit menentukan keunggulan dari suatu
komoditas. Bibit yang unggul biasanya tahan terhadap penyakit, hasil
komoditasnya berkualitas tinggi dibandingkan dengan komoditas lain sehingga
harganya dapat bersaing di pasar.
Penggunaan bibit unggul dapat meningkatkan produksi perhektar sekaligus
meningkatkan produksi total, oleh karena itu bibit unggul perlu disebar kepada
petani yang bersangkutan melalui penyuluhan atau penyampaian informasi yang
tepat serta memberikan kemudahan kepada petani untuk memperoleh bibit unggul
sehingga dengan penggunaan bibit unggul tersebut dapat ditingkatkan produksi
secara keseluruhan sesuai dengan apa yang diharapkan.
B. Temuan Penelitian Yang Sejenis
1.
Penelitian yang dilakukan oleh
Fifi Ria Sumanti (2010) yang berjudul
Faktor – faktor yang Mempengaruhi Pendapatan petani Kulit Manis (Cassia Vera)
di Kecamatan Lintau Buo Utara Kabupaten Tanah Datar
C. Penelitian yang dilakukan oleh Fitratul Husni
(2009) yang berjudul Faktor – faktor yang mempengaruhi Produksi Sawah di
Kecamatan Baso Kabupaten Agam
D. Kerangka
konseptual
Maka
kerangka konseptual penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
![]() |
Gambar 1. Kerangka Konseptual
E. Hipotesis
Hipotesis adalah
suatu jawaban permasalahan sementara yang bersifat dugaan dari suatu
penelitian. Dugaan ini harus dibuktikan kebenarannya melalui data empiris
(fakta lapangan). Hipotesis dapat benar atau terbukti setelah didukung oleh
fakta – fakta dari hasil penelitian.
1. Terdapat
pengaruh yang signifikan antara produksi karet terhadap Pendapatan petani Karet
di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung.
H0 :
β1 = 0, Ha : β1 ≠ 0
2. Terdapat
pengaruh yang signifikan antara harga karet terhadap Pendapatan petani Karet di
Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung.
H0 :
β2 = 0, Ha : β2 ≠ 0
3. Terdapat
pengaruh yang signifikan antara tingkat pendidikan petani karet terhadap
Pendapatan petani Karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung.
H0
: β3 = 0, Ha : β3 ≠ 0
4. Terdapat
pengaruh yang signifikan antara Umur karet terhadap Pendapatan petani Karet di
Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung.
H0 :
β4 = 0, Ha : β4 ≠ 0
5. Terdapat
pengaruh yang signifikan antara Biaya Usaha Tani
terhadap Pendapatan Petani Karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten
Sijunjung
H0 :
β5 = 0, Ha
: β5 ≠ 0
6. Terdapat
pengaruh yang signifikan antara Jenis bibit karet terhadap Pendapatan Petani
Karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten
Sijunjung.
H0 :
β6 = 0, Ha
: β6 ≠ 0
7. Terdapat
pengaruh yang signifikan antara Produksi karet, Harga karet, Tingkat Pendidikan
petani, Umur karet, Biaya Usaha dan Jenis bibit karet terhadap Pendapatan
Petani Karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten
Sijunjung
H0 :
β1 = β2 = β3
= β4 = β5 = β6 =0
Ha
salah satu β ≠ 0
BAB
III
METODE
PENELITIAN
A.
Jenis penelitian
Berdasarkan
rumusan masalah penelitian ini tergolong pada penelitian deskriptif dan
asosiatif.
A. Tempat
dan waktu penelitian
Penelitian ini
dilaksanakan di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung pada bulan Januari tahun 2014.
B. Populasi
dan Sampel
1. Populasi
Populasi
penelitian mengacu pada seluruh petani karet yang berada di Kecamatan
IV Nagari Kabupaten Sijunjung yang berjumlah 4281
orang.
2. Sampel
Berdasarkan
rumus Slovin,
maka jumlah sampel untuk penelitian ini adalah sebanyak 98
orang. Pengambilan
sampel pada penelitian ini dilakukan menggunakan teknik “Stratified Proportional
Sampling”
.
C.
Variabel Penelitian
Variabel terikat
Y pada penelitian ini adalah jumlah Pendapatan Petani
Karet sedangkan
variabel bebasnya adalah Produksi karet (
), Harga karet (
), Tingkat
Pendidikan
Umur karet
Biaya Usaha Tani (
), dan Jenis Bibit Karet (
).
D.
Jenis dan sumber data
Berdasarkan cara memperolehnya yaitu data primer dan data sekunder. Berdasarkan waktu pengambilan,
data dalam penelitian ini adalah data
cross section.
Berdasarkan sifat data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
kuantitatif.
E.Teknik Pengumpulan Data
Data primer
dikumpulkan dari responden dengan menggunakan teknik observasi langsung. Alat
pengumpulan data yang digunakan berupa daftar pertanyaan melalui kuesioner.
F. Defenisi
Operasional
1.
Pendapatan adalah pendapatan bersih yang
diterima oleh rumah tangga petani di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung
dalam usaha tani karet, diukur dengan rupiah,
per ha.
2.
Produksi adalah hasil atau output yang
dihasilkan setelah memanfaatkan input atau faktor –
faktor produksi oleh petani karet yang
diukur dalam Kg dan Ton.
3.
Harga karet adalah jumlah yang
dibayarkan untuk membayar produksi karet yang dihasilkan oleh petani karet yang
diukur dalam rupiah.
4.
Tingkat pendidikan petani karet adalah
lama bersekolah seorang petani karet yang diukur dengan tahun.
5.
Umur karet adalah lama suatu tanaman
karet dapat dipanen yang dijadikan sebagai patokan untuk memproduksi karet yang
diukur dengan tahun.
6.
Biaya merupakan jumlah biaya total yaitu
biaya implisit dan biaya eksplisit yang dikeluarkan oleh petani dalam usaha
tani karet di diukur dengan rupiah per ha.
7.
Jenis bibit karet adalah cikal bakal
tanaman yang menetukan keberhasilan suatu usaha tani karet. Jenis bibit
merupakan variable dummy dengan nilai 1 untuk jenis bibit unggul dan nilai 0
untuk jenis bibit lokal.
G.
Teknik Analisis Data
1. Analisis Deskriptif
Analisis
deskriptif yaitu penelitian data kepada tabel distribusi frekuensi kemudian
dilakukan analisis persentase terdensi sentral dan dispersi. Analisis ini menetukan banyaknya kelas interval, panjang kelas interval dan
rentangan data untuk data penelitian.
2.
Analisis
Induktif
a) Analisis regresi linear berganda
Analisis ini
bertujuan untuk mengkaitkan dua atau lebih variabel. Dalam hal ini peneliti
menghubungkan antara produksi, harga karet, tingkat pendidikan, umur
karet, biaya usaha dan jenis bibit terhadap Pendapatan petani karet di
Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung.
Untuk melihat
hubungan tersebut maka digunakan metode regresi linear berganda dalam suatu
fungsi dibawah ini (Gujarati, 1999:170):
Dimana :
Y = Pendapatan petani karet
X1 = Produksi Karet
X2 = Harga karet
X3 = Tingkat
Pendidikan
X4 = Umur Karet
X5 = Biaya Usaha
Dummy = Jenis bibit
Secara matematik
dapat ditulis sebagai berikut:
b)
Uji
prasayarat analisis
a.
Uji
Multikolinearitas
Pengujian multikolinearitas
adalah jika VIF ≥ 5,
maka terdapat multikolinearitas, jika VIF <
5, maka tidak terdapat multikolinearitas.
b.
Uji
Normalitas Sebaran Data
Salah satu
faktor yang dipertimbangkan dalam pemilihan tekhnik statistik parametrik adalah
penyebaran data harus berdistribusi normal. Menurut Sugiono (dalam Yudi Saputra: 2009)
uji normalitas ini dapat dilakukan dengan rumus yang dikembangkan oleh
kolmogrov smirnov dengan kriteria pengujian (α = 0,05) Jika
sig ≥ α maka distribusi data normal Jika
sig < α maka distribusi data tidak normal
c.
Uji Heterokedstisitas
Dalam mendeteksi
heterokedastisitas, dalam penelitian ini akan digunakan uji Korelasi Koefisien Spearman. Uji
ini akan meregresikan nilai absolut residual terhadap variabel-variabel
independen, Firma Yeni (2012:45. Kriteria
pengujianny yaitu apabila nilai signifikansinya ≥ 0,05,
maka tidak terdeteksi heterokedastisitas dan apabila
ada satu atau 2 yang nilai signifikansinya < 0,05, maka terdeteksi
heterokedastisitas.
c) Koefisien determinasi
Untuk mengetahui
apakah terdapat hubungan yang kuat antara keseluruhan variabel bebas dengan
variabel tidak bebas dapat dilihat dengan nilai koefesien determinasi (R atau R
square). Nilai R terletak antara 0 -1 atau 0 ≤ R ≤ 1.
a)
Uji Hipotesis
(1) Uji t
Jika
maka Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti bahwa variabel bebas secara
bersama-sama tidak berpengaruh terhadap variabel terikat Jika
maka Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti bahwa variabel bebas secara
bersama-sama berpengaruh terhadap variabel terikat.
(2)
Uji f
Jika f hitung < f tabel, maka Ho diterima
dan Ha ditolak yang berarti bahwa variabel bebas secara bersama-sama tidak
berpengaruh terhadap variabel terikat. Jika f
hitung ≥ f tabel maka Ho ditolak dan Ha diterima yang
berarti bahwa variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel
terikat.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
DAN PEMBAHASAN
1. Analisis Induktif
a. Analisis Linier Regresi Berganda
Tabel. 26
Analisis
Regresi Berganda

Sumber: Olahan Data Primer, 2014
Berdasarkan
hasil olahan data primer pada tabel diatas dengan menggunakan program SPSS
diperoleh persamaan regresi linear berganda sebagai berikut:
Pada tabel dapat
diketahui bahwa nilai konstanta adalah sebesar 0,299 berarti apabila tidak ada
variabel bebas maka pendapatan petani karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten
Sijunjung berkurang sebesar 0,299.
Sedangkan besarnya Return of scale
dapat dihitung dengan cara menjumlahkan koefisien pangkat masing – masing
variabel independen ( 1,669 + 1,359 +
0,006 + 0,017+ (-0,489) + 0,024 = 2,586) yang menunjukkan pendapatan petani
karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung berada pada kondisi increasing return to scale yang berarti
apabila input produksi, harga karet, tingkat pendidikan, umur karet dan jenis
bibit ditingkatkan penggunaanya dalam proporsi yang sama maka akan meningkatkan
output lebih besar daripada proporsi itu, sebaliknya input biaya usaha jika
ditingkatkan penggunaanya maka akan mengurangi output yang akan dihasilkan.
Selanjutnya
dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa bentuk pengaruh produksi (X1)
terhadap pendapatan (Y) adalah positif dengan koefisien regresi sebesar 1,669
artinya semakin tinggi produksi maka pendapatan yang diterima akan tinggi pula,
jika produksi naik satu satuan per hektarnya maka hasil pendapatan petani karet
di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung akan meningkat sebesar 1,669 satuan
dengan satuan asumsi cateris paribus.
Pengaruh
harga karet (X2) terhadap pendapatan (Y) adalah positif dengan koefisien
regresi sebesar 1,359 artinya semakin tinggi harga maka pendapatan yang akan
diterima semakin tinggi pula. Jika harga naik satu satuan maka hasil pendapatan
yang diperoleh petani karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung akan
meningkat sebesar 1,359 satuan dengan
asumsi cateris paribus.
Selanjutnya
pengaruh tingkat pendidikan (X3) terhadap pendapatan adalah positif dengan
koefisien regresi 0,006 artinya semakin tinggi tingkat pendidikan petani maka
pendapatan yang diterima akan semakin tinggi pula. Jika tingkat pendidikan naik
satu satuan maka pendapatan yang dihasilkan oleh petani karet di Kecamatan IV
Nagari Kabupaten Sijunjung akan meningkat sebesar 0,006 satuan dengan asumsi cateris paribus karena dengan semakin
tingginya pendidikan yang dimiliki oleh petani karet maka otomatis wawasan dan
ilmu yang dimiliki juga semakin luas sehingga dapat meningkatkan ilmu tetang
tata cara pengelolaan tanaman karet yang baik dan benar sehingga berpengaruh
terhadap pendapatan yang akan diperoleh petani karet itu sendiri.
Selanjutnya
pengaruh umur karet (X4) terhadap pendapatan (Y) adalah positif dengan
koefisien regresi 0,017 artinya semakin tinggi umur karet maka pendapatan yang
akan diterima akan semakin tinggi pula. Jika umur karet naik satu satuan maka
pendapatan yang dihasilkan oleh petani karet di Kecamatan IV Nagari akan
meningkat sebesar 0,017 satuan dengan asumi
cateris paribus.
Selanjutnya
pengaruh biaya usaha (X5) terhadap pendapatan (Y) adalah negatif dengan
koefisien regresi -0,489 artinya semakin tinggi biaya usaha tani maka
pendapatan yang akan diterima akan berkurang. Jika biaya usaha naik satu satuan
maka pendapatan yang diterima oleh petani karet di Kecamatan IV Nagari
Kabupaten Sijunjung juga akan ikut berkurang sebesar -0,489 satuan dengan
asumsi cateris paribus.
Dan
yang terakhir pengaruh jenis bibit (Dummy) terhadap pendapatan (Y) adalah
positif dengan koefisien regresi 0,024 artinya semakin tinggi penggunaan jenis
bibit khususnya jenis bibit unggul maka pendapatan yang diterima petani karet
akan semakin tinggi pula. Jika jenis bibit naik satu satuan maka pendapatan
yang diterima oleh petani karet di Kecamatan IV Nagari akan bertambah sebesar
0,024 satuan dengan asumsi cateris
paribus.
b. Uji Prasyarat Analisis
1. Uji Multikolinearitas
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa keenam variabel
bebas yang digunakan dalam penelitian ini memenuhi syarat untuk dimasukkan
kedalam suatu model dimana nilai VIF < 5 dan tingkat tolerance lebih dari 1.
Nilai VIF yang dipenuhi oleh X1 adalah 1,426 nilai VIF untuk X2 adalah 1,032,
nilai VIF untuk X3 adalah 1,064, nilai VIF untuk X4 adalah 1,879, nilai VIF
untuk X5 adalah 1,133 dan nilai VIF untuk Dummy adalah 1,870. Dengan demikian
nilai VIF dari keenam variabel bebas < 5 maka dapat disimpulkan tidak
terdapat gejala multikolinearitas.
2. Uji Normalitas Sebaran Data
Berdasarkan
hasil pengolahan data dengan bantuan SPSS yang dilakukan dengan one-sample
Kolmogorov-Smirnov (Uji normalitas data residual), diperoleh hasil bahwa semua
data dalam penelitian ini tersebar secara normal dimana asymp, sig 0,087 > α
0,05.
3. Uji Heterokedastisitas
Berdasarkan
hasil pengolahan data dengan bantuan SPSS yang dilakukan diperoleh hasil X1 sebesar 0,075, X2 sebesar 0,540, X3 sebesar 0,097, X4
sebesar 0,408, X5 sebesar 0,719 dan D sebesar 0,160. Dari semua variabel bebas
diperoleh nilai > 0,05 artinya tidak terdapat masalah heterokedastisitas.
c. Koefisien Determinasi
Tabel.
30
Koefisien
Determinasi

Sumber:
Olahan Data Primer, 2014
Berdasarkan
persamaan diatas dapat diketahui bahwa nilai koefisien determinasi R square
adalah 0,924 (92,4%) hal ini berarti bahwa sumbangan yang diberikan variabel
bebas (produksi, harga karet, tingkat pendidikan, umur karet, biaya usaha tani
dan jenis bibit karet) terhadap variabel terikat (pendapatan) adalah sebesar
92,4%. Hal ini menunjukkan bahwa 92,4% variabel bebas dalam penelitian ini
mempengaruhi variabel terikat dan 7,6% dipengaruhi oleh faktor – faktor lain
diluar penelitian. Sedangkan tingkat hubungan antara variabel bebas dengan
variabel terikat adalah 0,961 atau 96,1%.
d. Uji hipotesis
1. Uji t
Pengujian nilai
t yang dilakukan dengan menggunakan thitung dan menggambarkan probabilitas yang dihitung
dengan α = 0,05 dan df = 91 maka nilai ttabel dalam penelitian ini
adalah 1,66. Untuk mengetahui apakah variabel bebas berpengaruh terhadap
variabel terikat maka diperoleh hasil sebagai berikut:
1. Produksi
berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan petani karet di Kecamatan IV
Nagari Kabupaten Sijunjung. Nilai thitung lebih besar dari nilai ttabel
(2,361 > 1,66) atau sig < α (0,030 < 0,05) akibatnya H0 ditolak
dan Ha diterima.
2. Harga
karet berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan petani karet di
Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung. Dari hasil estimasi diketahui nilai thitung
lebih besar dari nilai ttabel (3,505 > 1,66) atau sig <
α (0,001 < 0,05) akibatnya H0 ditolak dan Ha diterima.
3. Tingkat
pendidikan petani karet berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan
petani karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung. Dari hasil estimasi
diketahui nilai thitung lebih besar dari ttabel ( 1,671
> 1,66) atau sig < α (0,043 < 0,05) akibatnya H0 ditolak
dan Ha diterima.
4. Umur
karet berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan petani karet di
Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung. Dari hasil estimasi diketahui nilai thitung
lebih besar dari ttabel ( 3,175 > 1,66) atau sig < α (0,015
< 0,05)
5. Biaya
usaha tani berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan petani karet di
Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung. Dari hasil estimasi diketahui nilai thitung
lebih besar dari ttabel ( -1,759 > 1,66) atai sig < α
(0,000 < 0,05).
6. Jenis
bibit berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan petani karet di
Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung. Dari hasil estimasi diketahui nilai ttabel
lebih besar dari thitung (2,844 > 1,66) atau sig < α
(0,024 < 0,05)
2. Uji F
Di
dalam pengujian ini diperoleh nilai Fhitung 5,588 > Ftabel 2,31 atau signifikansi yang diperoleh adalah
0,000 pada α = 0,05. Dengan demikian Fhitung > Ftabel dan sig < α = 0,05
maka H0 ditolah dan Ha diterima sehingga hipotesis yang
diajukan dalam penelitian ini terbukti dan diterima, dimana secara bersama –
sama produksi, harga karet, tingkat pendidikan, umur karet, biaya usaha dan
jenis bibit karet berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani karet di
Kecamatan IV Nagari di Kabupaten Sijunjung.
A. PEMBAHASAN
1.
Pengaruh
produksi (X1) terhadap pendapatan petani karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten
Sijunjung
Berdasarkan
uji hipotesis yang telah dilakukan ditemukan bahwa produksi (X1) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan petani karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung (Y).
Hipotesis alternatif yang diajukan dalam penelitian ini terbukti diterima.
Pengaruh
produksi (X1) terhadap pendapatan (Y) adalah positif dengan koefisien regresi
sebesar 1,669 artinya semakin tinggi produksi maka pendapatan yang diterima
akan tinggi pula, jika produksi karet naik satu satuan maka hasil pendapatan
petani karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung akan meningkat sebesar
1,669 satuan dengan asumsi cateris
paribus.
Hal
ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Sukirno (2003:193) produksi adalah hubungan yang bersifat teknis yang
menunjukkan sejumlah output yang dihasilkan dengan menggunakan sejumlah input –
input spesifik antar faktor – faktor produksi. Artinya jika output karet yang
diproduksi mengalami peningkatan maka yang pendapatan yang diperoleh oleh
petani karet akan meningkat pula.
2. Pengaruh
harga karet (X2) terhadap pendapatan petani karet di Kecamatan IV Nagari
Kabupaten Sijunjung
Berdasarkan
uji hipotesis yang telah dilakukan ditemukan bahwa harga (X2)
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan petani karet di
Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung (Y). Pengaruh harga karet (X2) terhadap
pendapatan (Y) adalah positif dengan koefisien regresi 0,026 artinya semakin
tinggi harga maka pendapatan yang akan diterima semakin tinggi pula. Jika harga
karet naik satu satuan maka hasil pendapatan petani karet di Kecamatan IV
Nagari Kabupaten Sijunjung akan meningkat sebesar 1,359 satuan dengan asumsi cateris paribus.
Hal ini sesuai dengan teori menurut Kadariah (dalam Alwi, 2009:25) adalah
tingkat kemampuan suatu barang atau jasa untuk ditukarkan dengan barang lain,
harga ditentukan oleh dua kekuatan yaitu permintaan dan penawaran yang saling
berjumpa dalam pasar (tiap organisasi tempat penjual dan pembeli suatu benda
dipertemukan).
3. Pengaruh
tingkat pendidikan terhadap pendapatan petani karet di Kecamatan IV Nagari
Kabupaten Sijunjung.
Berdasarkan
uji hipotesis yang telah dilakukan ditemukan bahwa tingkat pendidikan (X3)
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan petani karet di
Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung (Y). pengaruh tingkat pendidikan (X3)
terhadap pendapatan adalah positif dengan koefisien regresi 0,006 artinya
semakin tinggi tingkat pendidikan petani maka pendapatan yang diterima akan
semakin tinggi pula karena dengan pendidikan yang tinggi maka wawasan petani
karet dalam mengelola usaha tani karetnya juga akan lebih luas. Jika tingkat
pendidikan naik satu satuan maka pendapatan yang dihasilkan oleh petani karet
di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung akan meningkat sebesar 0,006 satuan
dengan asumsi cateris paribus.
Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Yusuf dalam Suzana
(2007:11) tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi seseorang dalam
mencapai keberhasilan, maka semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan
tinggi pula keberhasilannya dalam menyelesaikan tugasnya. Begitu juga
sebaliknya jika semakin rendah tingkat pendidikan seseorang maka akan rendah
pula keberhasilannya dalam menyelesaikan tugasnya.
4. Pengaruh
umur karet terhadap pendapatan petani karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten
Sijunjung.
Berdasarkan
uji hipotesis yang telah dilakukan ditemukan bahwa umur karet (X4)
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan petani karet di
Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung (Y). pengaruh umur karet (X4) terhadap
pendapatan (Y) adalah positif dengan koefisien regresi 0,017 artinya semakin
tinggi umur karet maka pendapatan yang akan diterima akan semakin tinggi pula.
Jika umur karet naik satu satuan maka pendapatan yang dihasilkan oleh petani
karet di Kecamatan IV Nagari akan meningkat sebesar 0,017 satuan dengan asumi cateris paribus.
Hal ini sesuai dengan teori umur karet menurut Soemartono
(2008:11) pohon karet mulai disadap rata-rata ketika berumur 6 tahun dan
berproduksi secara efektif sampai puluhan tahun, atau lilit batang mencapai 45
cm dengan ketinggian 100 cm dari permukaan tanah. Penyadapan dilakukan setiap
hari dengan sistem sadap bervariasi yaitu V2 d2 (penyadapan berbentuk huruf V
yang disadap setiap dua hari sekali) atau S1 d2 (penyadapan berbentuk spiral
yang disadap setiap dua hari sekali).
5.
Pengaruh
biaya usaha terhadap pendapatan petani karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten
Sijunjung
Berdasarkan
uji hipotesis yang telah dilakukan ditemukan bahwa umur karet (X5)
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan petani karet di
Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung (Y). Pengaruh biaya usaha (X5) terhadap
pendapatan (Y) adalah negatif dengan koefisien regresi -0,489 artinya semakin
tinggi biaya usaha tani maka pendapatan yang akan diterima akan berkurang. Jika
biaya usaha naik satu satuan maka pendapatan yang diterima oleh petani karet di
Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung akan berkurang sebesar 0,489 satuan
dengan asumsi cateris paribus.
Kemudian hasil penelitian ini juga
sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Suratiyah (dalam, Suzana, 2007:
63) bahwa modal (biaya) yang tersedia berhubungan langsung dengan peran petani
sebagai manajer dan juru tani dalam mengelola usaha taninya. Seberapa besar
tingkat penggunaan faktor produksi tergantung pada modal (biaya) yang tersedia.
Jika petani sebagai manajer tidak dapat menyediakan dana, maka terpaksa
penggunaan faktor produksi tidak sesuai dengan ketentuan yang seharusnya,
akibatnya produktivitas rendah dan pendapatan juga rendah.
6.
Pengaruh
jenis bibit (Dummy) terhadap
pendapatan petani karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung.
Berdasarkan
uji hipotesis yang telah dilakukan ditemukan bahwa jenis bibit karet (D)
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan petani karet di
Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung (Y). Pengaruh jenis bibit (Dummy) terhadap pendapatan (Y) adalah
positif dengan koefisien regresi 0,024 artinya semakin tinggi penggunaan jenis
bibit khususnya jenis bibit unggul maka pendapatan yang diterima petani karet
akan semakin tinggi pula. Jika jenis bibit naik satu satuan maka pendapatan
yang diterima oleh petani karet di Kecamatan IV Nagari akan bertambah sebesar
0,512 satuan dengan asumsi cateris
paribus.
Hal ini sesuai
dengan teori yang dikemukakan oleh Hastuti
(2007: 39) bibit menentukan keunggulan dari suatu komoditas. Bibit yang unggul
biasanya tahan terhadap penyakit, hasil komoditasnya berkualitas tinggi
dibandingkan dengan komoditas lain sehingga harganya dapat bersaing di pasar.
7. Produksi
(X1), harga karet (X2), tingkat pendidikan (X3), umur karet (X4), biaya usaha
tani (X5) dan jenis bibit (D) berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan
(Y) petani karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung.
Dari hasil penelitian diperoleh hasil nilai
Fhitung 5,588 > Ftabel
2,31 atau signifikansi yang
diperoleh adalah 0,000 pada α = 0,05. Dengan demikian Fhitung > Ftabel dan sig < α = 0,05
maka H0 ditolah dan Ha diterima sehingga hipotesis yang
diajukan dalam penelitian ini terbukti dan diterima, dimana secara bersama –
sama produksi, harga karet, tingkat pendidikan, umur karet, biaya usaha dan
jenis bibit karet berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani karet di
Kecamatan IV Nagari di Kabupaten Sijunjung. Jadi dapat disimpulkan bahwa jumlah
pendapatan dapat dijelaskan oleh faktor produksi, harga karet, tingkat
pendidikan petani, umur karet, biaya usaha tani dan jenis bibit karet sebesar
92,4% sedangkan 7,6% disumbangkan oleh variabel lain diluar penelitian ini.
Jadi dapat disimpulkan bahwa keenam variabel bebas yang digunakan dalam
penelitian ini memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pendapatan yang
diperoleh oleh petani karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung.
Dari
hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengaruh yang diberikan oleh variabel
produksi (X1) terhadap pendapatan petani karet (Y) adalah 1,669 satuan,
pengaruh variabel harga karet (X2) terhadap pendapatan petani karet (Y) adalah
1,359 satuan, pengaruh tingkat pendidikan (X3) terhadap pendapatan petani karet
(Y) adalah 0,006 satuan, pengaruh umur tanaman karet (X4) terhadap pendapatan
petani karet (Y) adalah 0,017 satuan, pengaruh biaya usaha tani (X5) terhadap
pendapatan petani karet (Y) adalah -0,489 satuan dan pengaruh jenis bibit karet
(D) terhadap pendapatan petani karet (Y) adalah sebesar 0,024 satuan.
Pendapatan usaha
tani menurut Hastuti (2007:106) merupakan selisih antara penerimaan dan semua
biaya, atau dengan kata lain pendapatan meliputi pendapatan kotor atau
penerimaan total dan pendapatan bersih. Pendapatan kotor atau penerimaan total
adalah adalah nilai produksi komoditas pertanian secara keseluruhan sebelum
dikurangi biaya produksi.
BAB V
SIMPULAN DAN
SARAN
A. Simpulan
1. Pendapatan
yang diperoleh oleh petani karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung
dipengaruhi secara signifikan oleh jumlah produksi karet. Pengaruh sebesar
1,669 dengan asumsi cateris paribus.
2. Pendapatan
yang diperoleh oleh petani karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung
dipengaruhi secara signifikan oleh harga karet. Pengaruh sebesar 1,359 dengan asumsi cateris paribus.
3. Pendapatan
yang diperoleh oleh petani karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung
dipengaruhi secara signifikan oleh tingkat pendidikan petani karet. Pengaruh
sebesar 0,006 dengan asumsi cateris
paribus.
4. Pendapatan
yang diperoleh petani karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung
dipengaruhi secara signifikan oleh variabel umur karet. Pengaruh yang sebesar
0,017 dengan asumsi cateris paribus.
5. Pendapatan
yang diperoleh petani karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung
dipengaruhi secara signifikan oleh variabel biaya usaha tani karet. Pengaruh
sebesar -0,489 dengan asumsi cateris
paribus.
6. Pendapatan
yang diperoleh petani karet di Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung
dipengaruhi secara signifikan oleh variabel jenis bibit karet. Pengaruh sebesar
0,024 dengan asumsi cateris paribus.
7. Secara
bersama – sama terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel bebas terhadap variabel terikat di Kecamatan
IV Nagari Kabupaten Sijunjung. Hal ini berarti semakin meningkat produksi,
harga karet, umur karet, tingkat pendidikan,
dan jenis bibit karet maka pendapatan yang diperoleh juga akan
meningkat. Begitu juga dengan biaya usaha terhadap pendapatan, jika biaya usaha
meningkat maka pendapatan yang diperoleh cenderung akan berkurang.
B. Saran
1. Disarankan
kepada petani karet untuk meningkatkan pengetahuan dibidang produksi karet,
bagaimana cara memaksimalkan produksi karet secara efektif dan efisien sehingga
dapat meningkatkan produksi karet yang pada akhirnya juga dapat meningkatkan
pendapatan.
2. Disarankan kepada pemerintah untuk dapat mengontrol
harga karet agar tidak turun secara drastis sehingga pendapatan petani karet
juga tidak ikut turun secara drastis.
3. Disarankan kepada petani karet untuk lebih meningkatkan
pendidikannya baik di sekolah formal ataupun informal, sekolah informal dapat
berupa mengikuti penyuluhan – penyuluhan yang diberikan dinas pertanian
setempat. Dan untuk pemerintah agar dapat
4. Disarankan
kepada petani untuk dapat mengelola tanaman karetnya dengan baik sehingga dapat
memaksimalkan produktivitas karetnya.
5. Disarankan kepada petani untuk perlahan mulai
mengelola dan mengembangkan tanaman karet jenis bibit unggul agar dapat
meningkatakan pendapatan petani tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Alwi,
Muhammad. (2009). Faktor – faktor Yang Mempengaruhi
Permintaan Beras di Kelurahan Surau Gadang Kecamatan Nanggalo Kota Padang. Padang: Universitas Negeri Padang.
Akhirmen.
(2006). Statistik II. Padang:
Universitas Negeri Padang.
Arikunto,
Suharmisi. (2006). Prosedur Suatu
Penelitian Suatu Pengantar Praktek. Jakarta: Reanika Cipta.
Arsyad, Licolin. (1995). Ekonomi Pembangunan.
Yogyakarta : STIE YKPN.
Daniel, Muchtar. (2002). Pengantar Ekonomi Pertanian.
Jakarta : Bumi Aksara
Deswanda, Dedy. (2009). Faktor – Faktor yang
Mempengaruhi Pendapatan Petani Kelapa Sawit. Padang. Universitas Negeri
Padang.
Fetria, Mira. (2005). Analisis Faktor – Faktor Yang
Mempengaruhi Produksi dan Pendapatan Petani Cabe di Kecamatan Salimpauang
Kecamatan Tanah Datar. Padang : Universitas Negeri Padang.
Firdaus,
Muhammad. (2010). Manajemen Agribisnis.
Jakarta. Bumi Aksara.
Gujarati, Damodar. (1997). Ekonometrika Dasar.
Jakarta : Erlangga.
Hastuti, Diah Dwi Retno. (2007). Pengantar Teori dan
Kasus: Ekonomika Pertanian. Jakarta : Penebar Swadaya.
Hanafie,
Rita. (2010). Pengantar Ekonomi Pertanian.
Yogyakarta: Andi Offset.
Husni, Fitratul. (2009). Faktor – faktor yang Mempengaruhi Produksi Padi Sawah di Kecamatan Baso
Kabupaten Agam). Padang: Universitas Negeri Padang.
Kecamatan IV Nagari dalam Angka. (2011).
Padang : BPS
Kurniawan,
Romy. (2008). Faktor – faktor yang
Mempengaruhi Produksi Kopi di Sumatera Barat. Padang: Universitas Negeri
Padang.
Mubyarto. (1986). Pengantar Ekonomi Pertanian.
Jakarta : LP3ES.
Nazir,
Mohammad.(2003). Metode Penelitian.
UPI: Jakarta
Pyndick,
Rubinfield. (2003). Teori Ekonomi Mikro.
Jakarta: PT. Index
S,
Bambang dan G, Kartasapoetra. (2008). Biaya Produksi: Kalkulasi dan
Pengendalian. Jakarta : Rineka Cipta.
Samuelson,
Paul. (2003). Mikroekonomi. Jakarta:
Erlangga
Saputra,
Yudi. (2009). Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Produksi Cokelat Di Kecamatan V Koto Kampung Dalam Kabupaten
Padang Pariaman (skripsi).UNP Padang
Soekartawi. (1993). Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian
Teori dan Aplikasi. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
____________(2002). Prinsip Dasar Ekonomi
Pertanian. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Soemartono, dkk. (2008). Buletin Ilmiah Instiper.
Yogyakarta: LPPM Instiper.
Statistik Karet Indonesia. (2009). BPS: Padang
Statistik Daerah Kabupaten
Sijunjung.
(2010). BPS: Padang.
Statistik Harga Produsen dan Konsumen Pedesaan Sumbar. ( 2012). BPS :
Padang.
Sugiarto, Herlambang Tedy. (2005). Ekonomi Mikro :
Sebuah Kajian Komprehensif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Sukirno,
Sadono. (2000). Pengantar Teori Mikro Ekonomi. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
______________(2002). Pengantar Teori Mikro Ekonomi.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
______________(2003).
Teori Ekonomi Mikro.Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
______________(2008). Pengantar Teori Mikro Ekonomi.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Suzana,
Premwidya. (2007). Faktor – faktor yang
Mempengaruhi Tingkat Pendapatan Petani Padi Sawah di Kecamatan Batang Kapas
Pesisir Selatan. Padang: Universitas Negeri Padang.
Sumbar
Dalam Angka.
(2004) . BPS : Padang .
Theresia, Nila. (2006). Faktor – faktor Yang
Mempengaruhi Pendapatan Pedagang Kecil Sektor Informal di Pasar Batusangkar.
Padang: Universitas
Negeri Padang.
Wibisono,
Yusuf. (1999). Manual Matematika Ekonomi.
Jakarta : Gajah Mada University Press.

mbak daftar pustaka yg kutipan (Kumalasari :2012:19) itu gimna mbak? kog nggk ada di dlm dftr pstakka mbak
BalasHapusmbak pdfnya ada gak mbak
BalasHapus